Selasa, 10 Maret 2015

Ular Bulan yang Dekat dan Berbahaya!

Ular bulan (Tropidolaemus wagleri).
Penduduk lokal, teman kami cerita-cerita sewaktu mengadakan herping pada 27-30 Juni 2013 yang lalu di Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara membuat kami merinding. “Kawan kami tergigit ular bulan, lalu beberapa detik racunnya langsung bereaksi”, terangnya.

Boy Sandi (depan kiri) herping bersama teman-temannya.
Ular bulan, demikian penduduk lokal menyebut salah satu ular yang mereka kenal dengan baik.  Ular yang dimaksud adalah jenis Tropidolaemus wagleri. Ular ini memiliki keunikan tersendiri yakni tidak agresif di siang hari dan lebih aktif pada malam hari (nocturnal). Taksonomi menggolongkannya ke dalam suku Viveridae yang secara umum memiliki bisa yang berbahaya bahkan menyebabkan kematian. Racun yang dihasilkan dapat merusak sistem saraf (neuraorokxin) dan sistem peredaran darah manusia. Bisanya cenderung digunakan untuk melemahkan mangsa ketimbang membela diri.


Tenda kemping.
Pengamatan atas kelompok Herpetologer Mania tersebut cukup beruntung menemukan jenis ular bulan. Kami berjumpa di jalur yang biasa dilewati penduduk. Ternyata mereka ada bersama dengan lingkungan yang dekat dengan manusia. Warnanya didominasi hijau muda yang mulus dan disisipi warna kuning sebagai batas warna hijau. Sekilas, bagian depan terlihat menyeramkan. Ini memang predator sejati. Mereka sangat dekat di sekeliling kita dan racunnya berbahaya.  

(Oleh Boy Sandi, foto oleh Chairunas Adha Putra)















Jumat, 06 Maret 2015

Rahmad Adi

Menelusuri alam seperti menelusuri buku-buku yang terkembang. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang sangat baik untuk dipelajari. Salah satu yang memudahkan mendalami pelajaran itu adalah dengan mendokumentasikannya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, memotret menjadi cukup penting. Itulah yang kita lihat pada diri Rahmad Adi. Beliau gemar untuk mendokumentasikan alam di depannya. Pria yang lebih akrab dipanggil "Ucok" ini bahkan memandang lebih jauh, bahwa jepret-menjepret adalah sebuah apresiasi yang dapat menutupi apresiasi negatif terhadap alam. Memelihara ular baginya adalah tindakan yang tidak tepat. Lebih baik memotretnya di alam, tentunya semuanya lebih indah di alam. Tanpa rekayasa.

Rahmad Adi dilahirkan pada 21 Agustus 1984 yang lalu dan saat ini menjadi salah satu staf Wildlife Conservation Society (WCS). Beliau telah hilir mudik memasuki hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Sejalan dengan itu, banyak pula cerita perjalanannya.

Soal fotografi herpetofauna? Ada baiknya kita mengelik tautan di bawah ini sebagai cerita perdananya untuk Herpetologer Mania.

Rabu, 04 Maret 2015

Memotret untuk Menjaga Alam dan Melestarikan Herpetofauna

Lansekap Taman Nasional Gunung Leuser.

Melalui mata kamera kita dapat melindungi satwa. Memotret adalah salah satu cara mengapresiasi keindahan satwa di alamnya. Hal demikian itu, setidaknya mengurangi apresiasi satwa dengan cara memilikinya sendiri. Begitulah salah satu yang saya pahami kaitan antara memotret dan konservasi.

Katak terperangkap pada tumbuhan pemangsa kantung semar.
Sebagai bahagian dari anggota yang tergabung dari badan yang bermisi menyelamatkan satwa lindung, saya sering melakukan perjalanan di alam bebas. Kadang perjalanan tersebut memakan waktu berhari-hari, semisal di Taman Nasional Gunung Leuser. Selama itu pula banyak momen penting yang seharusnya diabadikan. Di antaranya adalah lokasi perjalanan ekstrim di pegunungan, sungai-sungai, air terjun serta belukar-belukar yang diselimuti lumut. Tentunya di dalamnya ada keanekaragaman yang bersembunyi, salah satunya yang kusukai adalah herpetofauna.

Media foto adalah cara termudah menceritakan alam. Ada peristiwa dan kejadian yang bisa terekam. Terkadang, ada saatnya kita membiarkan foto yang berbicara, seperti halnya yang dilakukan pelestari alam. Beberapa kelompok seperti  IWP (Indonesia Wildlife Photography), RWP(Riau Wildlife Photography) serta dari Herpetologer Mania telah memulai pendekatan konservasi melalui karya fotografi.

Bunglon endemik Sumatra, Dendragama boulengeri.
Bagaimana dengan amfibi dan reptil? Amfibi dan reptil ternyata termasuk satwa yang memiliki ancaman yang tinggi. Bagian tubuhnya banyak digunakan menjadi bahan baku aksesoris. Katakanlah itu berupa tas atau sepatu, hidangan kuliner bagi pencinta makanan reptil, serta ada yang tak kalah menariknya saat ini, banyak kalangan anak muda  yang mememelihara reptil dan amfibi sebagai bahan pencitraan.

Kiranya, fotografi bisa menjadi alternatif untuk menggantikan keinginan orang-orang yang menikmati amfibi reptil dengan cara yang kurang tepat. Jadi mari kita apresiasi mereka yang sudah hobi fotografi alam. Apalagi sebagian di antara mereka sudah meluncurkan buku-buku kumpulan dari karya-karya foto.


Bufo juxtasper.
Selamat berkarya dan enjoy the adventure!

(Teks & foto oleh Rahmad Adi --- WCS IP)